Pesawaran – Puasa dikenal menyehatkan, tetapi manfaatnya bisa berkurang jika pola berbuka tidak tepat.
Kebiasaan “balas dendam” setelah seharian menahan lapar justru berisiko memicu lonjakan gula darah atau glucose spike.
Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pesawaran Chris Manurung menjelaskan bahwa glucose spike adalah peningkatan kadar gula darah secara cepat dan tinggi setelah makan.
Kondisi ini kerap terjadi ketika perut kosong dalam waktu lama, lalu langsung menerima asupan gula atau karbohidrat olahan dalam jumlah besar.
“Tubuh yang sebelumnya stabil menjadi kaget. Akibatnya, pankreas harus bekerja keras memproduksi insulin untuk menurunkan gula darah,” ujar Chris kepada Tribun Lampung, Senin (23/2/2026).
Menurut Chris, selama berpuasa kadar insulin berada dalam kondisi rendah dan lambung kosong.
Ketika berbuka dengan minuman manis, kolak tinggi gula, gorengan, atau nasi putih berlebihan, lonjakan gula darah sulit dihindari.
Jika pola ini berulang, metabolisme tubuh dapat terganggu.
Tubuh yang terus-menerus dipaksa memproduksi insulin dalam jumlah besar berisiko mengalami resistensi insulin.
“Banyak orang merasa lemas dan mengantuk setelah berbuka. Itu salah satu dampak dari naik-turunnya gula darah yang terlalu cepat,” jelasnya.
Lonjakan gula darah berulang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes dan hipertensi. Selain itu, kondisi ini juga berpotensi menambah lemak perut serta memicu peradangan dalam tubuh.
Chris mengingatkan bahwa fenomena ini tidak hanya menjadi persoalan individu, tetapi juga isu kesehatan masyarakat, terutama saat Ramadan ketika pola makan berubah drastis.
Kelompok rentan, khususnya penderita diabetes, perlu mendapat perhatian khusus.
Penelitian dalam jurnal Frontiers in Endocrinology (2025) menunjukkan bahwa penderita diabetes tipe 1 dapat mengalami dua puncak hiperglikemia, yakni setelah berbuka dan setelah sahur.
“Bagi penderita diabetes, konsultasi dengan dokter sebelum memutuskan berpuasa sangat penting. Penyesuaian dosis obat harus dilakukan agar kondisi tetap terkontrol,” tegas Chris.










