JAKARTA — Peringatan Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional kembali menjadi pengingat pentingnya keselamatan kerja sebagai fondasi keberlanjutan industri, khususnya di sektor dengan tingkat risiko tinggi seperti perkebunan dan agroindustri.
PTPN IV PalmCo, Sub Holding kelapa sawit di bawah Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), menjadi salah satu entitas yang menghadapi tantangan tersebut. Dengan jumlah tenaga kerja mencapai puluhan ribu orang di 134 unit kebun dan 71 pabrik yang tersebar di berbagai wilayah, perusahaan mengelola aktivitas kerja dalam skala besar dengan tingkat kompleksitas yang tinggi.
Dalam periode operasional yang melibatkan 69.455 pekerja selama beberapa bulan terakhir, PalmCo mencatat total 23.336.880 jam kerja. Angka tersebut tidak hanya menjadi catatan statistik, tetapi mencerminkan besarnya skala aktivitas yang menuntut sistem keselamatan yang kuat, disiplin operasional, serta pengawasan berlapis di lapangan.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa menilai bahwa jam kerja dalam skala besar justru menegaskan pentingnya pendekatan sistemik dalam pengelolaan K3. Menurutnya, keselamatan kerja tidak dapat bergantung pada slogan atau target angka semata.
“Dalam operasional yang melibatkan puluhan ribu orang, keselamatan harus dibangun melalui sistem yang bekerja. Mulai dari perencanaan kerja, pelatihan, pengawasan, hingga kepatuhan di lapangan. Jam kerja yang tercatat menjadi indikator apakah sistem itu berjalan atau tidak,” ujar Jatmiko.
Sebagai perusahaan dengan areal perkebunan yang luas dan kondisi geografis yang beragam, PalmCo menghadapi spektrum risiko kerja yang kompleks, mulai dari aktivitas panen, pemeliharaan tanaman, pengolahan di pabrik, hingga mobilisasi alat dan kendaraan berat. Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk terus memperbaiki standar operasional dan pendekatan pencegahan kecelakaan kerja.
Upaya penguatan K3 dilakukan secara berlapis. Selain standarisasi mesin dan peralatan kerja serta penyempurnaan prosedur kerja aman, PalmCo juga menekankan pembangunan budaya keselamatan di seluruh tingkatan organisasi. Pekerja didorong aktif mengidentifikasi potensi bahaya, melaporkan kondisi tidak aman, serta melakukan intervensi apabila menemukan praktik kerja berisiko.
Dalam beberapa tahun terakhir, penguatan sumber daya manusia di bidang K3 juga menjadi perhatian. PalmCo melahirkan ratusan tenaga kerja dengan kompetensi keselamatan kerja, termasuk Ahli K3 Umum, sebagai bagian dari strategi jangka panjang membangun sistem pencegahan berbasis keahlian dan kepemimpinan keselamatan.
“Keselamatan tidak hanya soal alat pelindung atau rambu peringatan. Yang lebih penting adalah pola pikir dan perilaku. Karena itu, investasi pada kompetensi dan kepemimpinan K3 menjadi hal yang tidak terpisahkan,” kata Jatmiko.
Pendekatan tersebut sejalan dengan arah kebijakan nasional yang menempatkan K3 sebagai elemen penting dalam produktivitas dan daya saing industri. Dalam konteks Bulan K3 Nasional, PalmCo memaknai momentum ini sebagai ruang evaluasi sekaligus penguatan komitmen, bukan sekadar perayaan seremonial.
Ke depan, PTPN IV PalmCo akan terus melanjutkan agenda perbaikan sistem keselamatan kerja, termasuk pemanfaatan teknologi, penguatan pengawasan, serta integrasi K3 ke dalam setiap proses bisnis. Dengan skala kerja yang besar dan tantangan yang terus berkembang, keselamatan dipandang sebagai investasi jangka panjang yang tidak dapat ditawar.










