Puncak musim kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena cuaca ekstrem mulai memunculkan dampak di Pulau Kalimantan. Berdasarkan pantauan di sejumlah daerah, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti beberapa wilayah, seperti yang dilaporkan terjadi di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di berbagai wilayah, termasuk Kalimantan Timur, terus mewaspadai lonjakan titik panas.
Roda ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat tidak terganggu seperti pengalaman karhutla yang pernah melanda di masa lampau,” papar Jatmiko.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa keberhasilan mitigasi karhutla sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektoral. “Kami tidak bekerja sendiri. Sinergitas dengan instansi terkait seperti Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, dan Satgas Karhutla daerah telah terjalin kuat. Kami secara aktif menyiagakan fasilitas pemadaman untuk turut membantu jika terjadi titik api di ring luar kebun kami,” tambahnya.
Kesiagaan Taktis di Lapangan
Arahan dari tingkat pusat tersebut secara langsung diterjemahkan menjadi tindakan taktis operasional oleh PTPN IV Regional V, yang membawahi wilayah operasional di Kalimantan.
Region Head PTPN IV Regional V, Sudarma Bhakti Lessan, menyampaikan bahwa saat ini status patroli lapangan telah dinaikkan menjadi 24 jam penuh di sejumlah titik yang dikategorikan rawan.
“Untuk memastikan sumber daya manusia kami siap menghadapi kondisi terburuk, kami secara berkala melakukan peningkatan kapasitas. Baru-baru ini, Regional V menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Bimtek Dalkarhutla) di Kalimantan Barat yang diikuti oleh hampir 100 karyawan dari berbagai kebun,” ungkapnya.
Para peserta Bimtek ini merupakan tim Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) yang menjadi ujung tombak perusahaan di lapangan. Mereka tidak hanya bertugas memantau dari menara pantau api, tetapi juga berbaur dan melakukan sosialisasi bersama kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa.
“Seluruh perlengkapan pemadaman mulai dari alat berat untuk membuat sekat bakar (fire break), armada tangki air, hingga mesin pompa portabel telah dicek dan dipastikan dalam kondisi siap pakai 100 persen. Kami terus berkoordinasi secara riil di lapangan dengan aparat keamanan dan otoritas terkait guna memastikan deteksi dini berjalan efektif,” tutupnya.
Ancaman karhutla di Kalimantan diprediksi masih akan berlanjut mengingat puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Kesiapan berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, maupun korporasi, kini tengah diuji dalam menjaga langit Kalimantan agar tak terus-menerus memutih tertutup kabut asap.










